This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
“Disambut” Alam Miangas
Tiga hari di perjalanan laut. Makan apa yang bisa dimakan, dan mandi di setiap pulau yang disinggahi. Berawal manis, alam Miangas menyambut mahasiswa KKN Unhas.
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 15 Februari 2014
08.35
Unknown
Teringat
cerita seorang kawan yang datang jauh dari provinsi sebelah. Ia kawan se-SMAku
dulu. Dengan bermaksud mengantar sang bunda ke RS Wahidin, saya bersama
kawan-kawan yang lain pun menjenguknya di salah satu penginapan dalam kampus
Unhas. Saat mencoba mengobrol jauh perihal sakit yang diderita ibunda, “ Pernah
dioperasi kanker payudara, tapi sel kanker menyebar lagi ke organ lain, dan
organ tidak ditau dan ini sedang diperiksa,” jelasnya.
Cerita
mengenai kanker payudara ini pun sebelumnya sudah saya dengar secara langsung.
Dua mahasiswa seangkatan saya, menceritakan bahwa mereka baru saja operasi
benjolan di payudara, diperkirakan tumor yang bisa berpotensi kanker. “Itulah
saya ndak pernah makan mie instan lagi, dilarang dokter,” terang salah satu
kawanku.
Kanker
payudara, penyakit yang menyerang segala umur. Tidak peduli kalangan mana.
Apalagi kita di kalangan mahasiswa. Kisah kedua kawan saya bisa menjadi bagian
kecil dari cerita gesitnya kanker ini menyerang remaja-remaja di kampus merah.
Stres
ternyata menyumbang peranan yang besar dalam kejadian kanker payudara. Stres, kata yang begitu sering diucapkan
beberapa orang usai menghadapi kesulitan. Apalagi di kalangan mahasiswa,
terkendala sedikit, biasa kita dengar, “uhh, stres ku deh begini,”. Berdampak tidak baik, terutama bagi wanita. Stress
bisa memicu timbulnya kanker payudara. Pada perempuan, stres akan memompa
hormon estrogen lebih banyak. Hormon estrogen berlebih adalah faktor utama
pemicu kanker payudara.
Data
yang dipaparkan dalam Kompas (13/2/2014) bahwa penelitian di Inggris menunjukkan
25 dari 100 perempuan yang tingkat stresnya tinggi berisiko terkena kanker
payudara. Stres merupakan salah satu faktor kanker selain faktor genetik,
konsumsi lemak, dan konsumsi alkohol.
Kanker
payudara 99 persen diderita oleh perempuan. Kasus ini selalu meningkat tiap
tahun dan berada di tingkat terbanyak kedua jenis kanker yang diderita perempuan
Indonesia setelah kanker serviks (leher rahim).
Namun
di RS Kanker Dharmais, jumlah kasus kanker payudara lebih banyak dibandingkan
kanker serviks. Pada 2002, ada 225 orang. Tahun 2012, jadi ada 809 orang. “dari
deteksi dini, kami menemukan banyak kanker payudaara memiliki tingkat stress
yang begitu tinggi, baik dari pekerjaan, sedang sekolah S3, maupun tekanan rumah tangga, “
kata Hardina Sabrida, Kepala Unit Deteksi Dini RS kanker Dharmais (Kompas,
13/2/2014).
Sejumlah
pasien mengaku telah menjaga pola makan, tidak makan daging berlebih, tidak
minum alkohol, dan banyak mengonsumsi sayuran. Tetapi tetap terkena kanker
payudara. Menurut Hardina, stres harus dikelola agar minimal dengan istirahat
cukup. Berlibur atau melakukan kegiatan yang disukai akan sangat membantu.
Selain itu, banyak minum air putih banyak.
Ini perlu mendapat perhatian
dari remaja-remaja. Terlebih bagi mahasiswa yang mudah stres dan akhirnya
berpotensi menambah deretan penderita kanker payudara.
Selasa, 03 Desember 2013
11.08
Unknown
![]() |
| Doc:ist |
Pemerintah membagikan kondom gratis di
Pekan Kondom Nasional. Setelah UGM, Bus kondom direncanakan akan menyambangi
kampus lainnya pula.
Ramai saja
pembicaraan mengenai kondom gratis kini. Salah satu postingan kawan di media
sosial whatsaap, “bagi gratis kondom
sama saja menghalalkan zina, itu haram sekalipun di lokasi prostitusi”.
Mengundang komentar dari kawan yang lain memanasi percakapan hari ini, “Saya
pikir tepat dengan keputusan Kemenkes untuk membagi kondom, karena seks adalah
hal pribadi. Sesuatu yang heterogen jangan dipukul rata dengan sudut pandang
homogen dari sisi agama. Maksiat atau tidak itu kan urusan pribadi.” Di media
sosial facebook, status seorang teman
“Ya allah, anak maba dikasiin kondom itu mau ngapain dia?”, menyusul postingan
di twitter, “beri kondom gratis sama
aja dengan halalkan seks bebas dong,???”.
Inilah pandangan
masyarakat terhadap keputusan Menteri Kesehatan baru ini. Program yang mengundang
banyak kecaman. Tak jarang pula, ada yang menyela bahwa keputusan yang tepat.
Permasalahan seks bebas atau maksiat itu menjadi urusan pribadi yang menjadi hak
setiap orang. Tapi, mari kita simak dulu, apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Kementrian Kesehatan
bersama Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dan DKT Indonesia memiliki program
“Pekan Kondom Nasional”. Temanya adalah “Protect Your Self Protect Your
Partner”. Pada tanggal 1 Desember berkenaan dengan hari peringatan AIDS
se-dunia, maka Menteri Kesehatan membagikan kondom gratis. Pembagian ini akan
berlangsung selama sepekan, hingga 7 Desember.
![]() |
| doc:ist |
Mengawali pekan
ini pada 1 Desember lalu kondom dibagikan di kampus Universitas Gajah Mada
(UGM). Kampus ini menjadi kampus pertama parkirnya Bus berwarna merah mencolok
bergambar artis kontroversial Julia Peres. Kita sebut saja “Bus Jupe” ini
merupakan media promosi Pekan Kondom Nasional. Pada acara itu dibagikan kondom
gratis untuk mencegah penularan HIV/AIDS.
“Kondom bukan barang terlarang, seperti narkotika. Jadi tidak perlu
risau,” ujar Nafsiah Mboi, Menteri Kesehatan RI dalam konferensi pers Hari AIDS Sedunia di Jakarta, dikutip dalam portal kotajogja.com.
Menyimak berita
dalam website tersebut menyebutkan bahwa agaknya UGM menjadi kampus pertama
yang dikunjungi oleh “Bus Jupe”. Sebagian mahasiswa UGM mengaku mendapatkan
kondom gratis di depan gerbang masuk kampus. Ada
beberapa kampus yang akan menjadi target pembagian kondom gratis, namun belum
ada informasi lebih lanjut mengenai kampus mana saja yang akan disambangi. “Pembagian
kondom adalah satu upaya untuk mencegah penularan HIV/AIDS, bukan untuk menganjurkan
seks bebas”, ujar Nafsiah pada kutipan dalam berita lifestyle.com
Rakyat makin
kebakaran jenggot karena program ini ternyata menghabiskan dana pemerintah
sebesar 25-30 milyar. Mereka menganggap bahwa membagi-bagi kondom gratis pada
“kelompok resiko tinggi penularan AIDS” bisa menyetop AIDS.
Dari data
sebelumnya yang sudah dipapaparkan penulis (baca postingan Waspada “Ledakan”
AIDS di Indonesia). Bahwa data tahun 2013 menyatakan semakin meningkatnya
pengidap HIV di Indonesia dan positif AIDS. Pada periode bulan Januari-Maret
2013 jumlah kasus AIDS yang baru terdeteksi sebanyak 460. Terdeteksi pada
kelompok umur 30-39 tahun sebesar 39,1%, 20-29 tahun sebesar 26,1% dan 40-49
tahun sebesar 16,5%. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1.
Lima provinsi yang
paling banyak melaporkan kasus AIDS adalah Jawa Tengah
(175), Sulawesi Tengah (59), Banten (34), Jawa Barat (33) dan Riau (32). Faktor
risiko atau penularan hubungan seksual tidak aman terutama tidak memakai kondom
pada heteroseksual sebesar 81,1%, penggunaan jarum suntik berganti-ganti pada
penyalahguna narkoba sebesar 7,8%, dari ibu positif HIV ke anak sekira 5% dan LSL/Lelaki
Seks Lelaki sekira 2,8%.
Pada periode bulan Januari hingga Maret 2013 dilaporkan tambahan kasus HIV dan AIDS secara
nasional yaitu
HIV 5.369 dan AIDS 460. Angka ini menambah jumlah kasus HIV/AIDS dari 1
Januari 1987
hingga 31 Maret 2013 menjadi 147.106 yang terdiri atas HIV
103.759 dan AIDS 43.347 dengan 8,288 kematian.
Perbandingan antara laki-laki dan perempuan pada kasus AIDS 2:1. Ini
artinya kian banyak laki-laki yang menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS.
Faktor risiko atau cara penularan pada kasus AIDS yang terdeteksi pada
Januari-Maret 2013 terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman (tidak
memakai kondom) pada heteroseksual yaitu 60 persen lihat tabel III.
Celakanya, program penanggulangan
yang gencar dilakukan biasanya hanya berlangsung di hilir, misalnya saja tes HIV dan penanganan
kasus yang terdeteksi, bukan pada
penyebab yang menjadi akar masalah kenapa ini bisa terjadi.
Dari data diatas sangat terlihat
bahwa terjadinya kasus ini karena hubungan heteroseksual tanpa memakai kondom. Mungkin
saja ini yang menjadi evaluasi dari Ibu Menkes untuk kemudian mempelopori
gerakan Pekan Kondom Nasional. Ibarat ingin memotong pohon namun dahannya saja
yang dipotong, maka akan kemungkinan tumbuh lagi. Karena bukan akarnya yang
dibasmi. Inilah yang dievaluasi dari program-program penanggulangan penyakit
ini di Indonesia, bahwa prosesnya terlalu banyak berlangsung di hilir.
Akhirnya, pembagian kondom gratis
dianggap sebuah cara penanggulangan dari hulu, memberikan kesadaran bagi
masyarakat untuk menggunakan kondom untuk mencegah peningkatan kasus HIV/AIDS
dari cara penularan yang didata paling tinggi. Semua diberikan, terutama pada
faktor umur yang beresiko. Para mahasiswa, pekerja seksual, dan sebagainya.
Cara penanggulangan dari hulu inilah
yang dinilai oleh masyarakat tidak tepat. “Logikanya sama seperti ini, anda boleh
seks bebas asal pakai kondom”, komentar kawan saya. Masih banyak saja masyarakat
yang menganggap kondom mudah sekali bocor, sehingga dipakai atau tidak maka
sama saja tidak mencegah penyebaran AIDS.
Anggapan mengenai
kondom inilah tentunya perlu kembali ditinjau. Penelitian laboratorium
membuktikan, kondom lateks sangat efektif dalam pencegahan penularan penyakit
menular, termasuk HIV. Ini dikarenakan lubang pori-pori pada kondom lateks
terlalu kecil untuk dapat dilalui oleh virus itu. Menurut Bondan Widjajanto,
Koordinator Pelayanan Medis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia DKI
Jakarta bahwa kondom lateks memiliki pori-pori 5 mikron (0,00002 inci), 10 kali
lebih kecil dari sperma. Sedangkan studi laboratorium membuktikan bahwa kondom
yang terbuat dari lateks sangat kedap untuk mencegah masuknya HIV, virus
penyebab AIDS (Kompas, 2011).
Bondan
mengatakan, peran kondom sebagai alat pencegah HIV sangatlah penting, terutama
bagi kalangan yang berisiko seperti kaum waria, pekerja seks, gay, pengguna
narkoba, dan mereka yang sudah positif AIDS atau terinfeksi HIV. "Kondom
aman. Kebocoran kondom sejauh ini lebih dikarenakan kedaluwarsa dan penyimpanan
kurang baik, seperti terkena panas baik oleh matahari maupun karena ditaruh di
dompet. Jadi lebih karena human error,"
kata Bondan di Bandung, Jawa Barat, (Kompas, 2011).
Pemerintah pun seperti menjadi
seorang penembak yang kehabisan amunisi untuk menanggulangi penyakit tak bisa
diobati ini. Terutama karena pertambahan kasus yang luar biasa. Masyarakat pun
seperti orang yang kehilangan akal, Bahaya seks bebas, atau penggunaan jarum
suntik yang menjadi penyebab penyakit mengerikan nan mematikan ini laiknya seperti
siaran radion rusak di telinga mereka. Masih saja, kasus HIV yang terdeteksi
laiknya bom waktu yang akan meledak menjadi AIDS.
Seperti yang dilansir dalam harian kompas.com dari data Komisi Penaggulangan
AIDS (KPA) Nasional yang melakukan riset pada remaja usia 24-14 tahun. Remaja itu lebih
takut hamil ketimbang terinfeksi HIV. Hingga Juni 2013 menunjukkan ada 1.996
kasus infeksi HIV baru pada usia 15-24 tahun. Sementara jumlah penderita
penyakit AIDS sejak 2008 hingga Juni 2013 adalah 28,8 persen penduduk Indonesia
pada rentang usia 20-29 tahun.
Menurut dr Ulul
Albab dari Persatuan Anggota Muda Obstetri dan Ginekologi (PAOGI), fenomena ini
merupakan sinyal pentingnya memberikan edukasi soal penggunaan pengaman saat
berhuhungan seksual. Kondom ini tentunya tidak lantas melegalkan seks pranikah
pada generasi muda, tetapi bertujuan melindungi diri dan pasangan dari berbagai
penyakit mematikan. Hal ini
diperkuat survei yang menyatakan, 84 persen remaja di Jakarta memerlukan info
seputar HIV dan AIDS (Kompas, 2013).
Pembagian kondom gratis diyakini
sebagai sebuah strategi jitu memberantas penyebaran HIV/AIDS. Namun, terlintas
sebuah pemikiran menggelitik lagi, “Pemberian gratis kondom. Pertanyaannya
kalau sudah dikasih gratis, untuk apa kalau tidak dipakai?” ****
“Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya”.
10.40
Unknown
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah
suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan
menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam
melawan infeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini menyebabkan melemahnya
tubuh dalam melawan penyakit.
“Selamat Hari AIDS, Jauhi Penyakitnya, Jangan Jauhi Orangnya”
Penyakit
ini sudah menjadi momok menakutkan. Selain, belum ada obat yang dinyatakan bisa
menyembuhkan para penderita AIDS, ternyata dari beberapa data yang diperoleh,
kasus terinfeksi HIV ataupun positif mengidap AIDS semakin meningkat. Data Ditjen
PP & PL, Kemenkes, melaporkan kasus kumulatif HIV/AIDS
pada periode 1 April 1987 sd 31 Maret 2013 tertanggal 17 Mei 2013.
Data yang dimuat oleh Syaiful W Harahap dalam
tulisannya di kompasiana.com ini
secara tertulis ingin memperlihatkan bahwa total ada 147.106 Kasus HIV/AIDS
yang tercatat di Indonesia sampai Maret 2013 Statistik AIDS (3/7/2013). Khususnya
di daerah Sulawesi Selatan ada sekira 4.583 kasus dengan total terinfeksi HIV
sebesar 3.116 orang dan positif AIDS sebesar 1.467 orang.
Dari data pun mengungkap selama tahun 2013, pada periode bulan Januari-Maret
2013 jumlah kasus AIDS yang baru terdeteksi sebanyak 460. Terdeteksi pada
kelompok umur 30-39 tahun (39,1%), 20-29 tahun (26,1%) dan 40-49 tahun (16,5%).
Perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Faktor risiko atau
penularan hubungan seksual tidak aman yaitu tidak memakai kondom pada
heteroseksual sebanyak 81,1%,
penggunaan jarum suntik berganti-ganti pada penyalahguna narkoba sebanyak 7,8%, dari ibu positif HIV ke anak sebanyak
5% dan LSL/Lelaki Seks Lelaki
sebanyak 2,8%.
Angka-angka dalam tabel diatas menampakkan dengan jelas
peringkat provinsi berdasarkan jumlah kasus AIDS. Tapi, kasus HIV di beberapa
provinsi akan menjadi ’ledakan AIDS’ sehingga jumlah kasus AIDS akan bertambah
di daerah-daerah
itu.
Papua
misalnya yang menempati peringkat pertama dengan kasus AIDS terbanyak di
Indonesia yakni 7.795. Selain itu, yang terinfeksi virus HIV ada 10.881 kasus. Begitu pula dengan Jawa Timur yang melaporkan 13.599 kasus
HIV. Dengan 6.900 kasus AIDS Jatim ada di peringkat kedua.
Kemudian
daerah kita sendiri, Sulawesi Selatan berada pada peringkat delapan untuk kasus
AIDS sebanyak 1.467. Namun, kota ini
memendam kasus HIV 3.116 yang akan
menetas menjadi kasus AIDS berikutnya.
Laki-laki yang tertular HIV melalui hubungan seksual dengan PSK menjadi
mata rantai penyebaran HIV di masyarakat. Itu karena melalui hubungan seksual tanpa
kondom di dalam dan di luar nikah. Celakanya,
program yang gencar dilakukan selama ini biasanya hanya di hilir, misalnya paling sering adalah tes HIV dan
penanganan kasus yang terdeteksi. Bukan pada akar masalah kenapa kasus ini bisa semakin
meningkat. Maka, tinggal menunggu waktu saja untuk ’ledakan” AIDS. Kasus-kasus HIV di masing-masing provinsi itu
ibaratnya itu menyimpan bom waktu, yang kemudian akan meledak pada waktunya dan menambah deretan angka penderita AIDS di Indonesia.
Senin, 25 November 2013
23.23
Unknown
![]() |
| Sumber foto: internet |
Pada
tulisan sebelumnya, lebih banyak dibahas mengenai manfaat sunat bagi pria. Hasil
penelitian membuktikan sunat laki-laki mengurangi risiko seseorang mengalami
infeksi menular seksual (IMS). Sunat pada laki-laki mampu mengurangi risiko AIDS
hingga 60 persen (Lusia Kus Anna, 2011). Kenyataannya selain pada laki-laki, sunat juga
dilakukan pada perempuan. Lalu, bagaimana dengan sunat perempuan?
Beberapa agama
tertentu memang mewajibkan sunat, seperti Islam dan Yahudi. Dalam Islam, sunat
bahkan diatur secara jelas dalam sebuah hadist. Rasulullah SAW.
bersabda: "Kesucian (fitrah) itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan,
mencabut ketiak, memendekkan kumis, dan memotong kutu" (H.R. Bukhari
Muslim). Sunat atau khitan dianggap sebagai media mensucikan diri bagi umat
Islam. Seseorang benar-benar diakui sebagai seorang muslim apabila ia telah
melakukan sunat. Namun, jika hingga ia dewasa belum pernah disunat,
keislamannya akan dipertanyakan. Tidak heran, seseorang yang baru saja masuk
Islam (baca: mualaf), ia benar-benar seorang Islam apabila telah disunat.
Hingga saat ini, sunat perempuan masih menjadi bahan perdebatan. Beberapa pihak
mengecam sunat pada perempuan dan menudingnya sebagai tindakan mutilasi. Namun,
sebagian lainnya mendukung sunat perempuan dengan alasan agama dan budaya.
Selama ini, masyarakat melakukan sunat bukan semata-mata untuk menjaga
kesehatan, tetapi lebih kepada alasan untuk menahan nafsu. Sebagian masyarakat,
khususnya di Indonesia, menganggap bahwa sunat mampu mengurangi nafsu
seseorang, apalagi seorang perempuan.
Akan tetapi, hasil penelitian menunjukkan bahwa sunat perempuan sama sekali
tidak memberikan manfaat medis. Sunat perempuan justru berdampak negatif bagi
perempuan dan merugikan kesehatan. Dampak yang bisa timbul, antara lain
perdarahan dan sakit kepala luar biasa yang dapat mengakibatkan shock
atau kematian, infeksi pada seluruh organ panggul, tetanus, dan gangrene
yang dapat menyebabkan kematian, serta kesulitan atau sakit saat buang air
karena adanya pembengkakan dan sumbatan pada saluran urine.
Di beberapa negara, sunat perempuan bahkan dilarang keras karena dianggap
sebagai tindakan mutilasi. WHO menyebut sunat pada perempuan bukanlah sunat,
melainkan female genital mutilation. Sunat perempuan dianggap sebagai
tindakan mutilasi karena memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh
kelamin yang berdampak pada komplikasi saat melahirkan dan berhubungan seks.
Bagian yang biasanya dipotong atau dihilangkan adalah labia minora, labia
mayora, dan klitoris. WHO sudah sejak lama mengecam sunat perempun, beberapa
negara juga sudah melarang sunat, misalnya Amerika. Namun, masih banyak negara
yang memperbolehkan sunat perempuan, seperti Afrika dan Indonesia.
Praktik sunat perempuan di Indonesia mungkin tidak lebih parah daripada di
Afrika. Di Indonesia, sunat perempuan hanya sekadar dibersihkan, di-kerok
menggunakan pisau, atau memotong sedikit bagian tertentu. Berbeda dengan
prosesi di Afrika, sunat perempuan dilakukan dengan memotong seluruh alat
kelamin luar, biasanya labia minora, labia mayora, atau klitoris, menggunakan
alat yang belum tentu steril. Hal inilah ditakutkan selama ini, jangan sampai
sunat perempuan menjadi bumerang yang menyebabkan berbagai infeksi menular
seksual, komplikasi melahirkan, dan rasa tidak nyaman saat berhubungan
seks.
Di Indonesia, larangan sunat perempuan dari PBB dikecam oleh banyak pihak, baik
dari masyarakat luas maupun pemuka agama. Syariat agama dan mempertahankan
tradisi adalah alasan kuat sehingga menolak pelarangan sunat perempuan. Sampai
saat ini, Menteri Kesehatan pun masih memperbolehkan sunat perempuan begitupun
juga MUI. Masih sangat sulit mengubah pola pikir masyarakat tentang ritual
sunat perempuan ini. Masih banyak masyarakat yang menjalankan ritual ini, baik
di pedesaan maupun perkotaan. Seseorang perempuan dianggap tidak suci dan aib
jika ia tidak pernah disunat. Mereka juga akan dianggap tidak taat agama dan
menyalahi tradisi nenek moyang. Ironi memang, di tengah pesatnya perkembangan
iptek, ternyata masih banyak masyarakat yang mempertahankan tradisi yang
merugikan kesehatan. Dibutuhkan upaya yang lebih keras untuk menyuarakan dampak
merugikan sunat perempuan dan diperlukan kesabaran ekstra untuk menunggu
dukungan pemerintah secara penuh terkait pelarangan sunat perempuan.
22.50
Unknown
![]() |
| Foto istimewa. Sumber: internet |
Menurut sebuah studi dari Uganda yang dilaporkan dalam jurnal akses terbuka mBio edisi 16 April 2013, pembuangan kulup dalam proses sunat mengurangi bakteri anaerob, yang memungkinkan sistem kekebalan untuk mempertahankan patogen menular seksual seperti HIV. Hasil studi ini diterbitkan dalam American Society for Microbiology (ASM).
Setengah dekade lalu, studi terkontrol besar mulai menunjukkan bahwa sunat
laki-laki dewasa dapat mengurangi risiko penularan HIV hingga setengahnya atau
lebih. Berbagai mekanisme pelindung telah diusulkan, termasuk pengurangan
jumlah luas permukaan secara keseluruhan yang rentan dan membuat selaput lendir
dari penis “lebih kaku” dan kurang permeabel terhadap patogen.
Sekarang, Cindy Liu dari Translational
Genomics Research Institute dan rekannya telah menemukan bahwa prosedur
perubahan “mikrobioma,” atau kumpulan mikroorganisme yang menghuni kepala
penis. Bakteri anaerob yang lebih sedikit menyebabkan kurangnya peradangan,
sehingga menyediakan sel kekebalan yang lebih rentan terhadap infeksi HIV.
Sunat secara drastis mengubah mikrobioma penis, perubahan yang dapat
menjelaskan mengapa sunat menawarkan perlindungan terhadap HIV dan infeksi
virus lainnya.
Dalam sebuah penelitian yang akan diterbitkan pada tanggal 16 April di
mBio, jurnal akses terbuka dari American Society for Microbiology, para
peneliti mempelajari efek sunat laki-laki dewasa pada jenis bakteri yang hidup
di bawah kulup sebelum dan setelah sunat. Pada satu tahun pasca-prosedur, total
beban bakteri di daerah itu telah turun secara signifikan dan prevalensi
bakteri anaerob, yang berkembang di lokasi dengan oksigen yang terbatas,
menurun sementara jumlah beberapa bakteri aerobik meningkat sedikit.
Percobaan terkontrol acak menunjukkan bahwa sunat mengurangi risiko infeksi
HIV pada pria sebesar 50% -60% dan mengurangi risiko infeksi HPV dan virus
herpes simpleks tipe 2, tetapi alasan biologi di balik manfaat ini tidak
dipahami dengan baik. Bisa jadi bahwa anatomi penis yang disunat membantu
mencegah infeksi, atau bisa juga bahwa perubahan dalam perlindungan mikrobioma,
atau beberapa kombinasi dari keduanya.
Menggunakan sampel usap dari uji coba besar sunat di Uganda, Price dan
rekannya di Johns Hopkins dan TGen ingin menentukan apakah sunat secara
signifikan mengubah komunitas mikroba di penis. Menggunakan teknik kuantitatif
disebut qPCR bersama dengan pyrosequencing untuk mengidentifikasi anggota
masyarakat, para peneliti membandingkan sampel dari pria yang tidak disunat
dengan sampel dari laki-laki disunat yang diambil baik sebelum prosedur dan
pada satu tahun kemudian.
“Ada perubahan dramatis dan signifikan dalam mikrobioma penis sebagai
akibat dari sunat laki-laki,” kata Price. Pada awalnya, mikrobiota dari kedua
kelompok laki-laki tersebut adalah sebanding. Setahun setelah operasi beban
bakteri pada semua pria agak menurun, namun pada pria yang disunat penuruna
secara signifikan lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak
disunat. Dan hampir semua kelompok bakteri yang berkurang adalah kelompok
anaerob atau anaerob fakultatif. Secara keseluruhan perubahan ini mengurangi
keanekaragaman mikrobiota.
“Dari perspektif kesehatan masyarakat temuan ini benar-benar menarik karena
beberapa organisme yang menurun memang dapat menyebabkan peradangan,” kata
Price. “Kami sudah terbiasa untuk berpikir tentang bagaimana mengganggu
mikrobioma usus dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi Sekarang
kita pikir mungkin gangguan ini (dalam mikrobioma penis) bisa menjadi hal yang
baik atau dapat memiliki efek positif,” kata Price.
Namun apa peran mikrobioma penis mungkin bermain dalam penularan HIV belum
diketahui, tetapi penelitian menunjukkan bahwa bakteri dapat mempengaruhi
seberapa rentan penis terhadap infeksi virus yang menular secara seksual. Di
antara laki-laki yang tidak tersunat, beban bakteri yang tinggi dapat
mengaktivasi sel di kulup yang disebut sel Langerhans, mencegah mereka dari
melakukan peran normal mereka dalam menangkis virus. Sebaliknya, sel-sel
Langerhans yang aktif mengkhianati tubuh, mengikat dan mengantar partikel HIV
kepada sel T, dimana mereka bisa memulai infeksi. Mengurangi jumlah bakteri di
penis dapat mencegah sel Langerhans untuk menjadi ‘pengkhianat’.
Artikel ini merupakah postingan ulang yang disadur
dari blog
http://heart-unhas.blogspot.com/2013/07/sunat-dapat-mencegah-infeksi-hiv.html
Sum Yang bersumber dari Jurnal American Society for Microbiology” Studi menunjukkan mengapa sunat dewasa membantu
mencegah infeksi HIV” CM Liu, BA
Hungate, AAR Tobian, et al. Male Circumcision Significantly Reduces Prevalence
and Load of Genital AnaerobicBacteria. mBio 4(2):e00076-13. April 16, 2013.
American Society for Microbiology. Circumcision Alters Penis Microbiome, Could
Explain HIV Protection. Press release. April 16, 2013.
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed
Twitter











