Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Februari 2014

 Teringat cerita seorang kawan yang datang jauh dari provinsi sebelah. Ia kawan se-SMAku dulu. Dengan bermaksud mengantar sang bunda ke RS Wahidin, saya bersama kawan-kawan yang lain pun menjenguknya di salah satu penginapan dalam kampus Unhas. Saat mencoba mengobrol jauh perihal sakit yang diderita ibunda, “ Pernah dioperasi kanker payudara, tapi sel kanker menyebar lagi ke organ lain, dan organ tidak ditau dan ini sedang diperiksa,” jelasnya.
Cerita mengenai kanker payudara ini pun sebelumnya sudah saya dengar secara langsung. Dua mahasiswa seangkatan saya, menceritakan bahwa mereka baru saja operasi benjolan di payudara, diperkirakan tumor yang bisa berpotensi kanker. “Itulah saya ndak pernah makan mie instan lagi, dilarang dokter,” terang salah satu kawanku.
Kanker payudara, penyakit yang menyerang segala umur. Tidak peduli kalangan mana. Apalagi kita di kalangan mahasiswa. Kisah kedua kawan saya bisa menjadi bagian kecil dari cerita gesitnya kanker ini menyerang remaja-remaja di kampus merah.
Stres ternyata menyumbang peranan yang besar dalam kejadian kanker payudara.  Stres, kata yang begitu sering diucapkan beberapa orang usai menghadapi kesulitan. Apalagi di kalangan mahasiswa, terkendala sedikit, biasa kita dengar, “uhh, stres ku deh begini,”. Berdampak tidak baik, terutama bagi wanita. Stress bisa memicu timbulnya kanker payudara. Pada perempuan, stres akan memompa hormon estrogen lebih banyak. Hormon estrogen berlebih adalah faktor utama pemicu kanker payudara.
Data yang dipaparkan dalam Kompas (13/2/2014) bahwa penelitian di Inggris menunjukkan 25 dari 100 perempuan yang tingkat stresnya tinggi berisiko terkena kanker payudara. Stres merupakan salah satu faktor kanker selain faktor genetik, konsumsi lemak, dan konsumsi alkohol. 

Kanker payudara 99 persen diderita oleh perempuan. Kasus ini selalu meningkat tiap tahun dan berada di tingkat terbanyak kedua jenis kanker yang diderita perempuan Indonesia setelah kanker serviks (leher rahim).
Namun di RS Kanker Dharmais, jumlah kasus kanker payudara lebih banyak dibandingkan kanker serviks. Pada 2002, ada 225 orang. Tahun 2012, jadi ada 809 orang. “dari deteksi dini, kami menemukan banyak kanker payudaara memiliki tingkat stress yang begitu tinggi, baik dari pekerjaan, sedang  sekolah S3, maupun tekanan rumah tangga, “ kata Hardina Sabrida, Kepala Unit Deteksi Dini RS kanker Dharmais (Kompas, 13/2/2014).
Sejumlah pasien mengaku telah menjaga pola makan, tidak makan daging berlebih, tidak minum alkohol, dan banyak mengonsumsi sayuran. Tetapi tetap terkena kanker payudara. Menurut Hardina, stres harus dikelola agar minimal dengan istirahat cukup. Berlibur atau melakukan kegiatan yang disukai akan sangat membantu. Selain itu, banyak minum air putih banyak. 

Ini perlu mendapat perhatian dari remaja-remaja. Terlebih bagi mahasiswa yang mudah stres dan akhirnya berpotensi menambah deretan penderita kanker payudara.

Selasa, 03 Desember 2013

Doc:ist

Pemerintah membagikan kondom gratis di Pekan Kondom Nasional. Setelah UGM, Bus kondom direncanakan akan menyambangi kampus lainnya pula.
Ramai saja pembicaraan mengenai kondom gratis kini. Salah satu postingan kawan di media sosial whatsaap, “bagi gratis kondom sama saja menghalalkan zina, itu haram sekalipun di lokasi prostitusi”. Mengundang komentar dari kawan yang lain memanasi percakapan hari ini, “Saya pikir tepat dengan keputusan Kemenkes untuk membagi kondom, karena seks adalah hal pribadi. Sesuatu yang heterogen jangan dipukul rata dengan sudut pandang homogen dari sisi agama. Maksiat atau tidak itu kan urusan pribadi.” Di media sosial facebook, status seorang teman “Ya allah, anak maba dikasiin kondom itu mau ngapain dia?”, menyusul postingan di twitter, “beri kondom gratis sama aja dengan halalkan seks bebas dong,???”.
Inilah pandangan masyarakat terhadap keputusan Menteri Kesehatan baru ini. Program yang mengundang banyak kecaman. Tak jarang pula, ada yang menyela bahwa keputusan yang tepat. Permasalahan seks bebas atau maksiat itu menjadi urusan pribadi yang menjadi hak setiap orang. Tapi, mari kita simak dulu, apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Kementrian Kesehatan bersama Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dan DKT Indonesia memiliki program “Pekan Kondom Nasional”. Temanya adalah “Protect Your Self Protect Your Partner”. Pada tanggal 1 Desember berkenaan dengan hari peringatan AIDS se-dunia, maka Menteri Kesehatan membagikan kondom gratis. Pembagian ini akan berlangsung selama sepekan, hingga 7 Desember.
doc:ist
Mengawali pekan ini pada 1 Desember lalu kondom dibagikan di kampus Universitas Gajah Mada (UGM). Kampus ini menjadi kampus pertama parkirnya Bus berwarna merah mencolok bergambar artis kontroversial Julia Peres. Kita sebut saja “Bus Jupe” ini merupakan media promosi Pekan Kondom Nasional. Pada acara itu dibagikan kondom gratis untuk mencegah penularan HIV/AIDS.  “Kondom bukan barang terlarang, seperti narkotika. Jadi tidak perlu risau,” ujar Nafsiah Mboi, Menteri Kesehatan RI dalam konferensi pers Hari AIDS Sedunia di Jakarta, dikutip dalam portal kotajogja.com.
Menyimak berita dalam website tersebut menyebutkan bahwa agaknya UGM menjadi kampus pertama yang dikunjungi oleh “Bus Jupe”. Sebagian mahasiswa UGM mengaku mendapatkan kondom gratis di depan gerbang masuk kampus. Ada beberapa kampus yang akan menjadi target pembagian kondom gratis, namun belum ada informasi lebih lanjut mengenai kampus mana saja yang akan disambangi. “Pembagian kondom adalah satu upaya untuk mencegah penularan HIV/AIDS, bukan untuk menganjurkan seks bebas”, ujar Nafsiah pada kutipan dalam berita lifestyle.com
Rakyat makin kebakaran jenggot karena program ini ternyata menghabiskan dana pemerintah sebesar 25-30 milyar. Mereka menganggap bahwa membagi-bagi kondom gratis pada “kelompok resiko tinggi penularan AIDS” bisa menyetop AIDS.
Dari data sebelumnya yang sudah dipapaparkan penulis (baca postingan Waspada “Ledakan” AIDS di Indonesia). Bahwa data tahun 2013 menyatakan semakin meningkatnya pengidap HIV di Indonesia dan positif AIDS. Pada periode bulan Januari-Maret 2013 jumlah kasus AIDS yang baru terdeteksi sebanyak 460. Terdeteksi pada kelompok umur 30-39 tahun sebesar 39,1%, 20-29 tahun sebesar 26,1% dan 40-49 tahun sebesar 16,5%. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1.
Lima provinsi yang paling banyak melaporkan kasus AIDS adalah Jawa Tengah (175), Sulawesi Tengah (59), Banten (34), Jawa Barat (33) dan Riau (32). Faktor risiko atau penularan hubungan seksual tidak aman terutama tidak memakai kondom pada heteroseksual sebesar 81,1%, penggunaan jarum suntik berganti-ganti pada penyalahguna narkoba sebesar 7,8%, dari ibu positif HIV ke anak sekira 5% dan LSL/Lelaki Seks Lelaki sekira 2,8%.
Pada periode bulan Januari hingga Maret 2013 dilaporkan tambahan kasus HIV dan AIDS secara nasional yaitu HIV 5.369 dan AIDS 460. Angka ini menambah jumlah kasus HIV/AIDS dari 1 Januari 1987 hingga 31 Maret 2013 menjadi 147.106 yang terdiri atas HIV 103.759 dan AIDS 43.347 dengan 8,288 kematian.
Perbandingan antara laki-laki dan perempuan pada kasus AIDS 2:1. Ini artinya kian banyak laki-laki yang menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS.
Faktor risiko atau cara penularan pada kasus AIDS yang terdeteksi pada Januari-Maret 2013 terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman (tidak memakai kondom) pada heteroseksual yaitu 60 persen lihat tabel III. 

Celakanya, program penanggulangan yang gencar dilakukan biasanya hanya berlangsung di hilir, misalnya saja tes HIV dan penanganan kasus yang terdeteksi, bukan pada penyebab yang menjadi akar masalah kenapa ini bisa terjadi.
Dari data diatas sangat terlihat bahwa terjadinya kasus ini karena hubungan heteroseksual tanpa memakai kondom. Mungkin saja ini yang menjadi evaluasi dari Ibu Menkes untuk kemudian mempelopori gerakan Pekan Kondom Nasional. Ibarat ingin memotong pohon namun dahannya saja yang dipotong, maka akan kemungkinan tumbuh lagi. Karena bukan akarnya yang dibasmi. Inilah yang dievaluasi dari program-program penanggulangan penyakit ini di Indonesia, bahwa prosesnya terlalu banyak berlangsung di hilir.
Akhirnya, pembagian kondom gratis dianggap sebuah cara penanggulangan dari hulu, memberikan kesadaran bagi masyarakat untuk menggunakan kondom untuk mencegah peningkatan kasus HIV/AIDS dari cara penularan yang didata paling tinggi. Semua diberikan, terutama pada faktor umur yang beresiko. Para mahasiswa, pekerja seksual, dan sebagainya.
Cara penanggulangan dari hulu inilah yang dinilai oleh masyarakat tidak tepat. “Logikanya sama seperti ini, anda boleh seks bebas asal pakai kondom”, komentar kawan saya. Masih banyak saja masyarakat yang menganggap kondom mudah sekali bocor, sehingga dipakai atau tidak maka sama saja tidak mencegah penyebaran AIDS.  
Anggapan mengenai kondom inilah tentunya perlu kembali ditinjau. Penelitian laboratorium membuktikan, kondom lateks sangat efektif dalam pencegahan penularan penyakit menular, termasuk HIV. Ini dikarenakan lubang pori-pori pada kondom lateks terlalu kecil untuk dapat dilalui oleh virus itu. Menurut Bondan Widjajanto, Koordinator Pelayanan Medis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia DKI Jakarta bahwa kondom lateks memiliki pori-pori 5 mikron (0,00002 inci), 10 kali lebih kecil dari sperma. Sedangkan studi laboratorium membuktikan bahwa kondom yang terbuat dari lateks sangat kedap untuk mencegah masuknya HIV, virus penyebab AIDS  (Kompas, 2011).
Bondan mengatakan, peran kondom sebagai alat pencegah HIV sangatlah penting, terutama bagi kalangan yang berisiko seperti kaum waria, pekerja seks, gay, pengguna narkoba, dan mereka yang sudah positif AIDS atau terinfeksi HIV. "Kondom aman. Kebocoran kondom sejauh ini lebih dikarenakan kedaluwarsa dan penyimpanan kurang baik, seperti terkena panas baik oleh matahari maupun karena ditaruh di dompet. Jadi lebih karena human error," kata Bondan di Bandung, Jawa Barat, (Kompas, 2011).
Pemerintah pun seperti menjadi seorang penembak yang kehabisan amunisi untuk menanggulangi penyakit tak bisa diobati ini. Terutama karena pertambahan kasus yang luar biasa. Masyarakat pun seperti orang yang kehilangan akal, Bahaya seks bebas, atau penggunaan jarum suntik yang menjadi penyebab penyakit mengerikan nan mematikan ini laiknya seperti siaran radion rusak di telinga mereka. Masih saja, kasus HIV yang terdeteksi laiknya bom waktu yang akan meledak menjadi AIDS.
Seperti yang dilansir dalam harian kompas.com dari data Komisi Penaggulangan AIDS (KPA) Nasional yang melakukan riset pada remaja usia 24-14 tahun. Remaja itu lebih takut hamil ketimbang terinfeksi HIV. Hingga Juni 2013 menunjukkan ada 1.996 kasus infeksi HIV baru pada usia 15-24 tahun. Sementara jumlah penderita penyakit AIDS sejak 2008 hingga Juni 2013 adalah 28,8 persen penduduk Indonesia pada rentang usia 20-29 tahun.
Menurut dr Ulul Albab dari Persatuan Anggota Muda Obstetri dan Ginekologi (PAOGI), fenomena ini merupakan sinyal pentingnya memberikan edukasi soal penggunaan pengaman saat berhuhungan seksual. Kondom ini tentunya tidak lantas melegalkan seks pranikah pada generasi muda, tetapi bertujuan melindungi diri dan pasangan dari berbagai penyakit mematikan. Hal ini diperkuat survei yang menyatakan, 84 persen remaja di Jakarta memerlukan info seputar HIV dan AIDS (Kompas, 2013).
Pembagian kondom gratis diyakini sebagai sebuah strategi jitu memberantas penyebaran HIV/AIDS. Namun, terlintas sebuah pemikiran menggelitik lagi, “Pemberian gratis kondom. Pertanyaannya kalau sudah dikasih gratis, untuk apa kalau tidak dipakai?” ****

SELAMAT HARI AIDS.  
“Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya”.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS.  Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini menyebabkan melemahnya tubuh  dalam melawan penyakit.
Penyakit ini sudah menjadi momok menakutkan. Selain, belum ada obat yang dinyatakan bisa menyembuhkan para penderita AIDS, ternyata dari beberapa data yang diperoleh, kasus terinfeksi HIV ataupun positif mengidap AIDS semakin meningkat. Data Ditjen PP & PL, Kemenkes, melaporkan kasus kumulatif HIV/AIDS pada periode 1 April 1987 sd 31 Maret 2013 tertanggal 17 Mei 2013. 

Data yang dimuat oleh Syaiful W Harahap dalam tulisannya di kompasiana.com ini secara tertulis ingin memperlihatkan bahwa total ada 147.106 Kasus HIV/AIDS yang tercatat di Indonesia sampai Maret 2013 Statistik AIDS (3/7/2013). Khususnya di daerah Sulawesi Selatan ada sekira 4.583 kasus dengan total terinfeksi HIV sebesar 3.116 orang dan positif AIDS sebesar 1.467 orang.
Dari data pun mengungkap selama tahun 2013, pada periode bulan Januari-Maret 2013 jumlah kasus AIDS yang baru terdeteksi sebanyak 460. Terdeteksi pada kelompok umur 30-39 tahun (39,1%), 20-29 tahun (26,1%) dan 40-49 tahun (16,5%). Perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Faktor risiko atau penularan hubungan seksual tidak aman yaitu tidak memakai kondom pada heteroseksual sebanyak 81,1%, penggunaan jarum suntik berganti-ganti pada penyalahguna narkoba sebanyak 7,8%, dari ibu positif HIV ke anak sebanyak 5% dan LSL/Lelaki Seks Lelaki sebanyak 2,8%.
Angka-angka dalam tabel diatas menampakkan dengan jelas peringkat provinsi berdasarkan jumlah kasus AIDS. Tapi, kasus HIV di beberapa provinsi akan menjadi ’ledakan AIDS’ sehingga jumlah kasus AIDS akan bertambah di daerah-daerah itu.
Papua misalnya yang menempati peringkat pertama dengan kasus AIDS terbanyak di Indonesia yakni 7.795. Selain itu, yang terinfeksi virus HIV ada 10.881 kasus. Begitu pula dengan Jawa Timur yang melaporkan 13.599 kasus HIV. Dengan 6.900 kasus AIDS Jatim ada di peringkat kedua.
Kemudian daerah kita sendiri, Sulawesi Selatan berada pada peringkat delapan untuk kasus AIDS sebanyak 1.467. Namun, kota ini memendam kasus HIV 3.116 yang akan menetas menjadi kasus AIDS berikutnya.
Laki-laki yang tertular HIV melalui hubungan seksual dengan PSK menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat. Itu karena melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Celakanya, program yang gencar dilakukan selama ini biasanya hanya di hilir, misalnya paling sering adalah tes HIV dan penanganan kasus yang terdeteksi. Bukan pada akar masalah kenapa kasus ini bisa semakin meningkat. Maka, tinggal menunggu waktu saja untukledakan” AIDS. Kasus-kasus HIV di masing-masing provinsi itu ibaratnya itu menyimpan bom waktu, yang kemudian akan meledak pada waktunya dan menambah deretan angka penderita AIDS di Indonesia.

“Selamat Hari AIDS, Jauhi Penyakitnya, Jangan Jauhi Orangnya”

Senin, 25 November 2013

Sumber foto: internet

     Pada tulisan sebelumnya, lebih banyak dibahas mengenai manfaat sunat bagi pria. Hasil penelitian membuktikan sunat laki-laki mengurangi risiko seseorang mengalami infeksi menular seksual (IMS). Sunat pada laki-laki mampu mengurangi risiko AIDS hingga 60 persen (Lusia Kus Anna, 2011).  Kenyataannya selain pada laki-laki, sunat juga dilakukan pada perempuan. Lalu, bagaimana dengan sunat perempuan?
     Beberapa agama tertentu memang mewajibkan sunat, seperti Islam dan Yahudi. Dalam Islam, sunat bahkan diatur secara jelas dalam sebuah hadist. Rasulullah SAW. bersabda: "Kesucian (fitrah) itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut ketiak, memendekkan kumis, dan memotong kutu" (H.R. Bukhari Muslim). Sunat atau khitan dianggap sebagai media mensucikan diri bagi umat Islam. Seseorang benar-benar diakui sebagai seorang muslim apabila ia telah melakukan sunat. Namun, jika hingga ia dewasa belum pernah disunat, keislamannya akan dipertanyakan. Tidak heran, seseorang yang baru saja masuk Islam (baca: mualaf), ia benar-benar seorang Islam apabila telah disunat. 
     Hingga saat ini, sunat perempuan masih menjadi bahan perdebatan. Beberapa pihak mengecam sunat pada perempuan dan menudingnya sebagai tindakan mutilasi. Namun, sebagian lainnya mendukung sunat perempuan dengan alasan agama dan budaya. Selama ini, masyarakat melakukan sunat bukan semata-mata untuk menjaga kesehatan, tetapi lebih kepada alasan untuk menahan nafsu. Sebagian masyarakat, khususnya di Indonesia, menganggap bahwa sunat mampu mengurangi nafsu seseorang, apalagi seorang perempuan.
     Akan tetapi, hasil penelitian menunjukkan bahwa sunat perempuan sama sekali tidak memberikan manfaat medis. Sunat perempuan justru berdampak negatif bagi perempuan dan merugikan kesehatan. Dampak yang bisa timbul, antara lain perdarahan dan sakit kepala luar biasa yang dapat mengakibatkan shock atau kematian, infeksi pada seluruh organ panggul, tetanus, dan gangrene yang dapat menyebabkan kematian, serta kesulitan atau sakit saat buang air karena adanya pembengkakan dan sumbatan pada saluran urine. 
     Di beberapa negara, sunat perempuan bahkan dilarang keras karena dianggap sebagai tindakan mutilasi. WHO menyebut sunat pada perempuan bukanlah sunat, melainkan female genital mutilation. Sunat perempuan dianggap sebagai tindakan mutilasi karena memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kelamin yang berdampak pada komplikasi saat melahirkan dan berhubungan seks. Bagian yang biasanya dipotong atau dihilangkan adalah labia minora, labia mayora, dan klitoris. WHO sudah sejak lama mengecam sunat perempun, beberapa negara juga sudah melarang sunat, misalnya Amerika. Namun, masih banyak negara yang memperbolehkan sunat perempuan, seperti Afrika dan Indonesia. 

     Praktik sunat perempuan di Indonesia mungkin tidak lebih parah daripada di Afrika. Di Indonesia, sunat perempuan hanya sekadar dibersihkan, di-kerok menggunakan pisau, atau memotong sedikit bagian tertentu. Berbeda dengan prosesi di Afrika, sunat perempuan dilakukan dengan memotong seluruh alat kelamin luar, biasanya labia minora, labia mayora, atau klitoris, menggunakan alat yang belum tentu steril. Hal inilah ditakutkan selama ini, jangan sampai sunat perempuan menjadi bumerang yang menyebabkan berbagai infeksi menular seksual, komplikasi melahirkan, dan rasa tidak nyaman  saat berhubungan seks.
     Di Indonesia, larangan sunat perempuan dari PBB dikecam oleh banyak pihak, baik dari masyarakat luas maupun pemuka agama. Syariat agama dan mempertahankan tradisi adalah alasan kuat sehingga menolak pelarangan sunat perempuan. Sampai saat ini, Menteri Kesehatan pun masih memperbolehkan sunat perempuan begitupun juga MUI. Masih sangat sulit mengubah pola pikir masyarakat tentang ritual sunat perempuan ini. Masih banyak masyarakat yang menjalankan ritual ini, baik di pedesaan maupun perkotaan. Seseorang perempuan dianggap tidak suci dan aib jika ia tidak pernah disunat. Mereka juga akan dianggap tidak taat agama dan menyalahi tradisi nenek moyang. Ironi memang, di tengah pesatnya perkembangan iptek, ternyata masih banyak masyarakat yang mempertahankan tradisi yang merugikan kesehatan. Dibutuhkan upaya yang lebih keras untuk menyuarakan dampak merugikan sunat perempuan dan diperlukan kesabaran ekstra untuk menunggu dukungan pemerintah secara penuh terkait pelarangan sunat perempuan.

    Tulisan merupakan artikel ulang yang disadur kembali dari blog http://heart-unhas.blogspot.com/2013/04/sunat-perempuan-polemik-agama-tradisi.html.
Foto istimewa. Sumber: internet
         Sunat merupakan hal lumrah, yang sudah menjadi keharusan pada beberapa daerah untuk segera dilakukan ketika wanita atau pria sudah mulai beranjak dewasa. Namun, masih ada juga daerah yang belum menyadari pentingnya budaya seperti ini. Belum lagi, orang yang bersangkutan belum memahami apa dan mengapa peristiwa "menyakitkan" ini harus dilakukan. Terutama bagi pria, yang biasanya, seperti di daerah saya, mereka  harus mengalami dua kali sunat, pertama sunat dilakukan oleh dokter dan kedua dilakukan oleh orang pintar di daerah tersebut. Seperti apakah manfaat dibaliknya, yang ternyata bisa mencegah penularan HIV/AIDS. 
          Menurut sebuah studi dari Uganda yang dilaporkan dalam jurnal akses terbuka mBio edisi 16 April 2013, pembuangan kulup dalam proses sunat mengurangi bakteri anaerob, yang memungkinkan sistem kekebalan untuk mempertahankan patogen menular seksual seperti HIV. Hasil studi ini diterbitkan dalam American Society for Microbiology (ASM).
Setengah dekade lalu, studi terkontrol besar mulai menunjukkan bahwa sunat laki-laki dewasa dapat mengurangi risiko penularan HIV hingga setengahnya atau lebih. Berbagai mekanisme pelindung telah diusulkan, termasuk pengurangan jumlah luas permukaan secara keseluruhan yang rentan dan membuat selaput lendir dari penis “lebih kaku” dan kurang permeabel terhadap patogen.
Sekarang, Cindy Liu dari Translational Genomics Research Institute dan rekannya telah menemukan bahwa prosedur perubahan “mikrobioma,” atau kumpulan mikroorganisme yang menghuni kepala penis. Bakteri anaerob yang lebih sedikit menyebabkan kurangnya peradangan, sehingga menyediakan sel kekebalan yang lebih rentan terhadap infeksi HIV.
Sunat secara drastis mengubah mikrobioma penis, perubahan yang dapat menjelaskan mengapa sunat menawarkan perlindungan terhadap HIV dan infeksi virus lainnya.
Dalam sebuah penelitian yang akan diterbitkan pada tanggal 16 April di mBio, jurnal akses terbuka dari American Society for Microbiology, para peneliti mempelajari efek sunat laki-laki dewasa pada jenis bakteri yang hidup di bawah kulup sebelum dan setelah sunat. Pada satu tahun pasca-prosedur, total beban bakteri di daerah itu telah turun secara signifikan dan prevalensi bakteri anaerob, yang berkembang di lokasi dengan oksigen yang terbatas, menurun sementara jumlah beberapa bakteri aerobik meningkat sedikit.
Percobaan terkontrol acak menunjukkan bahwa sunat mengurangi risiko infeksi HIV pada pria sebesar 50% -60% dan mengurangi risiko infeksi HPV dan virus herpes simpleks tipe 2, tetapi alasan biologi di balik manfaat ini tidak dipahami dengan baik. Bisa jadi bahwa anatomi penis yang disunat membantu mencegah infeksi, atau bisa juga bahwa perubahan dalam perlindungan mikrobioma, atau beberapa kombinasi dari keduanya.
Menggunakan sampel usap dari uji coba besar sunat di Uganda, Price dan rekannya di Johns Hopkins dan TGen ingin menentukan apakah sunat secara signifikan mengubah komunitas mikroba di penis. Menggunakan teknik kuantitatif disebut qPCR bersama dengan pyrosequencing untuk mengidentifikasi anggota masyarakat, para peneliti membandingkan sampel dari pria yang tidak disunat dengan sampel dari laki-laki disunat yang diambil baik sebelum prosedur dan pada satu tahun kemudian.
“Ada perubahan dramatis dan signifikan dalam mikrobioma penis sebagai akibat dari sunat laki-laki,” kata Price. Pada awalnya, mikrobiota dari kedua kelompok laki-laki tersebut adalah sebanding. Setahun setelah operasi beban bakteri pada semua pria agak menurun, namun pada pria yang disunat penuruna secara signifikan lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak disunat. Dan hampir semua kelompok bakteri yang berkurang adalah kelompok anaerob atau anaerob fakultatif. Secara keseluruhan perubahan ini mengurangi keanekaragaman mikrobiota.
“Dari perspektif kesehatan masyarakat temuan ini benar-benar menarik karena beberapa organisme yang menurun memang dapat menyebabkan peradangan,” kata Price. “Kami sudah terbiasa untuk berpikir tentang bagaimana mengganggu mikrobioma usus dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi Sekarang kita pikir mungkin gangguan ini (dalam mikrobioma penis) bisa menjadi hal yang baik atau dapat memiliki efek positif,” kata Price.

Namun apa peran mikrobioma penis mungkin bermain dalam penularan HIV belum diketahui, tetapi penelitian menunjukkan bahwa bakteri dapat mempengaruhi seberapa rentan penis terhadap infeksi virus yang menular secara seksual. Di antara laki-laki yang tidak tersunat, beban bakteri yang tinggi dapat mengaktivasi sel di kulup yang disebut sel Langerhans, mencegah mereka dari melakukan peran normal mereka dalam menangkis virus. Sebaliknya, sel-sel Langerhans yang aktif mengkhianati tubuh, mengikat dan mengantar partikel HIV kepada sel T, dimana mereka bisa memulai infeksi. Mengurangi jumlah bakteri di penis dapat mencegah sel Langerhans untuk menjadi ‘pengkhianat’.

 Artikel ini merupakah postingan ulang yang disadur dari blog http://heart-unhas.blogspot.com/2013/07/sunat-dapat-mencegah-infeksi-hiv.html
Sum         Yang bersumber dari Jurnal American Society for Microbiology” Studi menunjukkan mengapa sunat dewasa membantu mencegah infeksi HIV” CM Liu, BA Hungate, AAR Tobian, et al. Male Circumcision Significantly Reduces Prevalence and Load of Genital AnaerobicBacteria. mBio 4(2):e00076-13. April 16, 2013. American Society for Microbiology. Circumcision Alters Penis Microbiome, Could Explain HIV Protection. Press release. April 16, 2013.

  
Design by Al Amin Dawa