![]() |
| Sumber: ist. |
This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
“Disambut” Alam Miangas
Tiga hari di perjalanan laut. Makan apa yang bisa dimakan, dan mandi di setiap pulau yang disinggahi. Berawal manis, alam Miangas menyambut mahasiswa KKN Unhas.
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 Desember 2013
08.09
Unknown
Kutipan
peristiwa menyanyat hati diatas menunjukkan kondisi moralitas masyarakat
Indonesia yang sudah sangat tergerus. Modernisasi, globalisasi yang pesat
mempengaruhi kecepatan akses informasi. Sifat informasi yang diperoleh dan
diterima inilah yang menentukan karakter masyarakat Indonesia.
Moralitas, yang
dimiliki manusia menjadikannya pembeda dari makhluk dunia lainnya. Binatang,
tumbuhan dan manusia dinilai keberadaan dan nilai mulianya dari moralitas yang
dimiliki.
Moral
( Bahasa Latin Moralitas),
dalam wikipedia, 2013 adalah istilah manusia menyebut orang
lain dalam tindakan bernilai positif. Moral adalah perbuatan, tingkah laku, ucapan
seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. Penilaian terhadap moral diukur
dari budaya setempat. Bila yang dilakukan seseorang sesuai dengan nilai yang berlaku
di masyarakat dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan, maka dinilai
memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Manusia yang tidak memiliki
moral disebut amoral, artinya ia tidak memiliki nilai positif di mata manusia
lain. Moral adalah produk dari budaya dan agama. Setiap budaya memiliki standar
moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah
terbangun sejak lama.
Moral secara
ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu. Tanpa moral manusia tidak
bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang memiliki nilai implisit karena
banyak orang yang memiliki moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang
sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan
manusia harus memiliki moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya.
Defenisi moral menurut Djajendra
(2012) adalah aturan yang bersumber dari hati nurani untuk membimbing perilaku
dan cara berpikir. Meningkatkan kualitas moral dimulai dari kesadaran untuk
menanamkan nilai-nilai positif ke dalam diri. Ketika dalam hati nurani terisi
nilai-nilai negatif yang tidak mampu membedakan antara benar dan salah, maka
diri akan menjadi pencipta bencana, yang setiap saat dapat memutarbalikkan
benar menjadi salah atau salah menjadi benar.
Djajendra dalam kompasiana.com
tahun 2012 menyatakan hati nurani adalah penghasil moral, dan saat hati nurani
diisi dengan hal-hal yang bernilai positif, maka bisa menghasilkan kualitas
moral yang cerdas untuk memutuskan apa yang baik, apa yang buruk, apa yang
benar, apa yang tidak benar, apa yang adil, apa yang tidak adil, apa yang
manusiawi, dan apa yang tidak manusiawi. Pada akhirnya, kualitas moral yang
baik akan memiliki empati dan toleransi dalam melayani kehidupan yang beragam.
Potret ini juga
merupakan sebuah hubungan kausal. Sebuah dampak hubungan sebab akibat dari
proses pemerintahan saat ini. Ekonomi, sosial dan hubungan antar negara.
Sisi ekonomi
terlihat memberikan dampak yang begitu besar dalam tergerusnya nilai moral
seseorang. Semakin rendahnya penghasilan sementara kebutuhan semakin meningkat
memaksa mereka yang berada di kalangan bawah melakukan hal-hal yang terpaksa
menjerumuskan diri mereka, dalam sebuah tindakan kriminalitas. Anak membunuh
karena tidak diberikan uang, suami menceraikan istri karena mengomel meminta
uang belanja, anak tidak mau belajar bila tidak diberikan uang, banyak pencopet
dan pencuri, pengemis jalanan semakin menjamur memenuhi ruas jalan. Uang
sebagai penggerak perekonomian adalah sebuah benda berharga yang sangat
mempengaruhi karakter dan moral. Mengutip istilah dahulu “Air adalah Sumber
Kehidupan”, yang berubah sekarang menjadi “Uang Sumber Kehidupan”.
Tak hanya
menimpa rakyat kelas bawah, masyarakat kelas atas pun menjadi korban. Gaya
hidup yang semakin meningkat memaksa beberapa kalangan pejabat terpaksa mencuri
uang rakyat, para koruptor dibalik tingginya kedudukan mereka. Dengan gaji
tidak seberapa, mobil dan rumah mewah menjadi bukti penyitaan Komisi
Pemberantas Korupsi di Indonesia.
Seperti tak
habisnya membahas penyebab korupsi. Permasalahan moral menyangkut kebangsaan
yang seolah sudah berakar. Dan ini yang harus diberantas. Dibersihkan dari
pemerintahan saat ini.
Peran pemerintah
memberikan pendidikan moral atau lebih dikenal pendidikan karakter saat ini.
Melalui pendidikan moral, pemerintah bisa memberikan jalan perbaikan terhadap
banyaknya masalah di Indonesia. Penyebab mendasar yakni moral. Penyaringan
informasi yang masuk, himbauan dan iklan layanan masyarakat yang mendidik,
kurikulum sekolah dan tenaga pengajar yang lebih terlatih dan kompeten menjadi
contoh yang bisa dilakukan untuk mengubah pemikiran yang akan menuju perbaikan
moral individu, yang menjadi refleksi moral rakyat Indonesia.
Kualitas moral
yang baik akan menghasilkan kehidupan terbaik. Kualitas kehidupan terbaik
dihasilkan dari kreatifitas dalam aturan moral yang baik. Jadi, diri seperti
berlari di alam bebas untuk menemukan tujuan akhir yang telah direncanakan,
bukan seperti berlari tanpa arah.
Naskah sebelum edit
Sudah diterbitkan di penerbitan kampus identitas
Senin, 25 November 2013
11.20
Unknown
![]() |
| Pengemis (Foto Istimewa. Sumber: internet) |
Di
setiap malam
yang dingin, seorang nenek renta berdiri dengan kaku, memakai tongkat
berhias
mangkuk di tangan. Sang nenek dalam kondisi tidak bisa melihat atau
buta, sembari berjalan tertatih-tatih, mengharapkan belas kasihan dari
orang-orang yang lewat. Biasanya, tak seberapa yang juga bisa berikan.
Kemudian di
malam lain ketika melewati lokasi yang sama, dengan kaget saya melihat ia
berjalan normal, tak seperti sedang dalam kondisi buta. Namun, semua terlihat
normal. Ketika merasa diperhatikan, nenek langsung berulah seolah ia sakit dan
buta kembali. Kaget, dan shock. Sebuah
kebenaran yang tak saya pernah kira.
Sebuah
cerita di
sudut kota Makassar lain. Di depan salah satu Pom Bensin Pertamina,
biasanya
banyak pengemis berkursi roda. Ini untuk menggambarkan bahwa mereka
tidak
bisa berjalan layaknya orang normal, karena kaki mereka diamputasi.
Akhirnya,
papan ukuran 20 cm x 50 cm yang diberi roda menjadi alat bantu mereka
untuk
mengemis. Sontak dengan kagetnya, ketika saya kembali berkesempatan
melihat hal
yang sama terjadi pada nenek sebelumnya. Pengemis berkursi roda ini
berkumpul
di satu pohon yang rindang, sambil berdiskusi dengan rekannya yang
sekondisi.
Salah satunya lalu berdiri tegak untuk bisa berbicara dengan temannya.
“Waw”, mereka sedang berpura-pura dibalik ketidaknormalannya.
![]() |
| Pengemis beroda (Sumber: internet) |
Mungkin saja kedua hal diatas bukanlah sebuah rahasia besar. Atau juga telah banyak orang sebelumnya yang mengetahuinya. Saya yakin, mereka hanya bisa mengelus dada menyaksikan drama dunia ini.
Dengan merendahkan diri, para pengemis, terlebih untuk kategori pengemis yang berpura-pura cacat atau mengalami kondisi disabilitas, bisa mendapatkan uang yang banyak dari cara begini, yang tentunya dalam waktu yang singkat. Sehingga dengan besarnya kota ini, mereka bisa memafaatkan mereka-mereka, yang saya katakan maaf memiliki ”hati yang lemah”.
Berdasarkan data BPS bulan Mei 2010 dalam kompasiana.com, penduduk Sulawesi Selatan sekitar 8.032.551 jiwa dengan proporsi laki-laki sebesar 3.921.543 dan perempuan 4.111.008. Kepadatan penduduk sekitar 128,6 km2. Tahun 2011, penduduk kota Makassar sekitar 1.352.136 jiwa dengan profesi yang beraneka ragam. Pertumbuhan kota Makassar pesat per tahun menjadikan kaum urban dari desa atau kota lainnya datang memadati kota berlambag ayam jantan ini.
Kurangnya keterampilan dan kerasnya persaingan dalam mencari pekerjaan menyebabkan kaum urban terpinggirkan dan berprofesi sebagai sopir pete-pete, tukang becak, buruh bangunan, buruh pabrik, pembantu rumah tangga dan lain-lain. Ada pula yang menjadi penjual koran, pengemis dan tukang parkir liar. Pengemis punya beberapa kategori, antara lain cacat fisik akibat kecelakaan atau kandala’ (penyakit kusta), perempuan lansia, perempuan muda yang masih sehat fisiknya dan anak-anak segala usia.
Kejadian ironi di tengah majunya kota daeng. Memanfatkan kelemahan terbesar dalam diri manusia yakni, rasa iba atau biasa disebut rasa kasihan. Dari beberapa data yang dilansir, bahkan penghasilan para pengemis yang terorganisir dengan baik bisa mencapai 10 juta per bulan. Jumlah fantastis bila disejajarkan dengan gaji seorang PNS, atau seorang bupati yang bekerja keras dalam sebulan.
Inilah akhirnya sikap yang diadaptasi kaum terpinggirkan. Menunggu sedekah, untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, mereka mati akal. Dan hanya berpikir bahwa mengemis adalah cara terbaik dan tercepat. Jadi jangan heran, mungkin ketika anda bisa ke rumah salah satu mereka, perabotan rumah serasa lengkap, mulai dari pemutar musik tercanggih, sofa terbaik, TV dengan ukuran layar yang besar, dan kemungkinan lainnya.
Kadang hati ini merasa begitu bersalah karena sering marah pada orang-orang tersebut. Kejadian ini telah mengganti rasa iba yang saya miliki menjadi kesal. Bayangkan, hanya menengadahkan tangan plus suara disetel sedikit supaya terdengar memelas, mereka sudah dapat meraup lembaran rupiah. Terlebih untuk menjalankan aksi, mereka berlindung dibalik “ketidaknormalan” itu, dan menjadi pengemis.Yah, pengemis bertopeng.
Bukan menghujat, atau iri atas penghasilan besar pengemis seperti ini, namun hanya sekadar menggelitik rasa. Mereka, yang saya sebut tega memanfaatkan rasa kasihan manusia lainnya.
Setelah itu, apa yang bisa kita lakukan dengan melihatnya, apakah mereka yang harus dipersalahkan. Saya pikir tidak. Keberadaan masyarakat berkarakter seperti ini menjadi “tugas rumah” pemerintah Kota Makassar saat ini dan berikutnya. Mari berbenah bersama.
Dengan merendahkan diri, para pengemis, terlebih untuk kategori pengemis yang berpura-pura cacat atau mengalami kondisi disabilitas, bisa mendapatkan uang yang banyak dari cara begini, yang tentunya dalam waktu yang singkat. Sehingga dengan besarnya kota ini, mereka bisa memafaatkan mereka-mereka, yang saya katakan maaf memiliki ”hati yang lemah”.
Berdasarkan data BPS bulan Mei 2010 dalam kompasiana.com, penduduk Sulawesi Selatan sekitar 8.032.551 jiwa dengan proporsi laki-laki sebesar 3.921.543 dan perempuan 4.111.008. Kepadatan penduduk sekitar 128,6 km2. Tahun 2011, penduduk kota Makassar sekitar 1.352.136 jiwa dengan profesi yang beraneka ragam. Pertumbuhan kota Makassar pesat per tahun menjadikan kaum urban dari desa atau kota lainnya datang memadati kota berlambag ayam jantan ini.
Kurangnya keterampilan dan kerasnya persaingan dalam mencari pekerjaan menyebabkan kaum urban terpinggirkan dan berprofesi sebagai sopir pete-pete, tukang becak, buruh bangunan, buruh pabrik, pembantu rumah tangga dan lain-lain. Ada pula yang menjadi penjual koran, pengemis dan tukang parkir liar. Pengemis punya beberapa kategori, antara lain cacat fisik akibat kecelakaan atau kandala’ (penyakit kusta), perempuan lansia, perempuan muda yang masih sehat fisiknya dan anak-anak segala usia.
Kejadian ironi di tengah majunya kota daeng. Memanfatkan kelemahan terbesar dalam diri manusia yakni, rasa iba atau biasa disebut rasa kasihan. Dari beberapa data yang dilansir, bahkan penghasilan para pengemis yang terorganisir dengan baik bisa mencapai 10 juta per bulan. Jumlah fantastis bila disejajarkan dengan gaji seorang PNS, atau seorang bupati yang bekerja keras dalam sebulan.
Inilah akhirnya sikap yang diadaptasi kaum terpinggirkan. Menunggu sedekah, untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, mereka mati akal. Dan hanya berpikir bahwa mengemis adalah cara terbaik dan tercepat. Jadi jangan heran, mungkin ketika anda bisa ke rumah salah satu mereka, perabotan rumah serasa lengkap, mulai dari pemutar musik tercanggih, sofa terbaik, TV dengan ukuran layar yang besar, dan kemungkinan lainnya.
Kadang hati ini merasa begitu bersalah karena sering marah pada orang-orang tersebut. Kejadian ini telah mengganti rasa iba yang saya miliki menjadi kesal. Bayangkan, hanya menengadahkan tangan plus suara disetel sedikit supaya terdengar memelas, mereka sudah dapat meraup lembaran rupiah. Terlebih untuk menjalankan aksi, mereka berlindung dibalik “ketidaknormalan” itu, dan menjadi pengemis.Yah, pengemis bertopeng.
Bukan menghujat, atau iri atas penghasilan besar pengemis seperti ini, namun hanya sekadar menggelitik rasa. Mereka, yang saya sebut tega memanfaatkan rasa kasihan manusia lainnya.
Setelah itu, apa yang bisa kita lakukan dengan melihatnya, apakah mereka yang harus dipersalahkan. Saya pikir tidak. Keberadaan masyarakat berkarakter seperti ini menjadi “tugas rumah” pemerintah Kota Makassar saat ini dan berikutnya. Mari berbenah bersama.
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed
Twitter


