Senin, 25 November 2013

Tiga hari di perjalanan laut. Makan apa yang bisa dimakan, dan mandi di setiap pulau yang disinggahi. Berawal manis, alam Miangas menyambut mahasiswa KKN Unhas.

Mahasiswa Unhas baru saja sampai di Pulau Miangas.  Bersama TNI menurunkan bekal makanan, Kamis (25/06)

 
       Pesawat Air Asia membawa sejumlah 74 mahasiswa Universitas Hasanuddin menuju Kota Manado Sulawesi Utara sore itu. Tanggal 22 Juni 2013 menjadi titik tolak mahasiswa kampus merah ke sebuah pulau asing, jauh di ujung daerah teritorial Provinsi Sulawesi Utara. 
      Terlebih dahulu, saya ingin bercerita bagaimana bisa bertemu dengan kawan-kawan berjumlah 73 lainnya. Boleh dibilang, kami adalah orang-orang terpilih. Cukup narsis, bukan. Yah, bukan candaan. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Saya merasa begitu senang ketika mendapatkan kawan-kawan seperti mereka. Tanpa pernah saling mengenal sebelumnya, karena kami berlatar disiplin ilmu beragam di Unhas, akhirnya bisa berkumpul dalam satu tim. 
      Kami memulai persahabatan ini ketika Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin mengumumkan lokasi baru untuk KKN gelombang 85 periode Juni-Agustus 2013. Daerah perbatasan merupakan wilayah yang dinilai cukup baik bagi mahasiswa KKN untuk mengabdikan diri. Setelah sukses menggelar KKN perbatasan untuk Pulau Sebatik, sebuah pulau batas Indonesia dengan negara Malaysia yang menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN), Unhas kemudian kembali berencana mengirimkan mahasiswanya ke sebuah daerah tapal batas lainnya, ke Pulau Miangas, perbatasan Indonesia dengan Filipina, menggandeng Kodam Wirabuana.
         Singkat kata, seleksi dilaksanakan. Antusiasme mahasiswa lumayan dalam prosesi ini. Wawancara dan tes berkas menjadi pertimbangan mereka. Alasan UPT melakukan seleksi adalah daerah ini merupakan daerah baru, dan membutuhkan mahasiswa-mahasiswa yang memiliki loyalitas tinggi dan mental perintis untuk menyukseskan program kerja dalam rangka pengabdian masyarakat, sehingga bisa berdampak positif bagi almamater merah, Universitas Hasanuddin. Dari 300-an pendaftar, 74 orang berhasil lulus. Kami adalah tim, sebuah kerja sama untuk melaksanakan satu dari tri darma perguruan tinggi, yakni pengabdian masyarakat. Tidak lain demi mengharumkan nama almamater tercinta, Universitas Hasanuddin. 
     Kapal Perintis KM.Meliku Nusa sudah bersiap berlayar membawa mahasiswa-mahasiswa yang berbekal semangat penuh pengabdian ini. Menghabiskan waktu tiga hari, dengan singgah di tujuh pulau sebelum benar-benar menginjakkan kaki di Pulau Miangas. 
        Tentunya bukan sebuah hal mudah menghabiskan waktu full tiga hari dalam perjalanan laut. Kapal yang kecil ditambah ombak yang lumayan besar di perjalanan membuat perut ini harus menahan gejolak rasa ingin menumpahkan apa saja yang mengisi perut. Lalu, untuk mentaktisi kekurangan air di kapal, beberapa mahasiswa selalu menyempatkan diri untuk menumpang mandi di beberapa rumah warga, di beberapa pulau yang disinggahi. 
     Selama persinggahan di beberapa pulau itulah kemudian saya berkenalan dengan warga di sekitar. Mengatakan bahwa kami adalah mahasiwa KKN dari Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan yang bertujuan ke Miangas. Di luar dugaan, mereka begitu ramah. Sehingga kami merasa tak canggung lagi ngobrol, terutama meminta izin untuk “numpang mandi”. Pulau yang kami singgahi dari Bitung, yakni Pulau Makalehi, Pulau Siawu, Pulau Karakitan, Pulau Tahuna, Pulau Kawaluso, Pulau Kawio, dan terakhir adalah Pulau Marore. 
      Satu-satunya hal yang paling saya takutkan selama persinggahan adalah berkeliarannya banyak hewan anjing dan babi, membuat kami harus hati-hati dalam melangkah. Maklum, di beberapa pulau yang disinggahi adalah pulau dengan mayoritas warga beragama Nasrani. Sehingga situasi ini wajar saja terjadi. Seperti inilah juga yang akan kami alami di Miangas nanti.
Langit dan laut senada dalam warna biru yang membebaskan rasa.
Cheny (kiri) dan Echy (kanan) saat baru saja sampai di Miangas, Kamis (25/06/2013)

      Desiran angin berpadu birunya langit dalam ombak yang begitu kuat menyambut kedatangan kami di tanah Miangas. Untung saja, cuaca hari itu cerah. Kata warga Miangas di sekitar dermaga untuk menyambut kami, beruntung kedatangan mahasiswa Unhas “disambut” alam Miangas. Menurut mereka, biasanya Kapal Meliku Nusa membutuhkan waktu beberapa jam hingga bisa menepi sempurna ke dermaga karena cuaca akhir-akhir ini sedang tidak baik. Pikirku, memang benar bulan Juni-Desember adalah musim hujan jadi wajar saja ketika cuaca tidak baik dan mungkin berubah-ubah. Sebuah kebetulan cuaca, yang dinilai mereka “tidak biasa”. 
      Kami pun menurunkan bekal makanan dan keperluan program kerja nantinya dari kapal ke dermaga. Dengan bantuan beberapa anggota TNI perbatasan, kami membawa bekal tersebut ke posko induk yang sudah disiapkan. Kemudian kami juga disambut secara formal di kantor Kecamatan Khusus Miangas, oleh Kepala Kecamatan Miangas, dan Mangkubumi I, Piet Pitaratu Palu. 
    Dalam sambutannya, Camat mengatakan kami bukanlah mahasiswa KKN pertama yang siap mengabdikan diri di Miangas, namun sebelumnya tahun 2009 sudah ada mahasiswa KKN dari Universitas Indonesia juga. Lanjut, Mangkubumi Satu mengenang masa itu, dengan masa ketika mahasiswa Unhas menginjakkan kaki di pulau ini, “Kapal mereka kala itu, tidak bisa sandar di dermaga, namun kalian bisa dengan mudah sampai dan kapal menepi dengan baik. Alam Miangas menyambut kalian. Selamat datang di tanah adat ini. 
      Riuh tepuk tangan orang yang berada di ruangan itu. Pikiran dan keadaan yang benar-benar baru ini meronta dalam pikiran mahasiswa Unhas yang memenuhi ruangan kecamatan kala itu. Bersemangat menghadapi kehidupan baru untuk sebulan di pulau paling utara Indonesia ini. Selamat datang di Miangas. 
Rasanya mungkin terlambat menulis kisah perjalanan ini. Tetapi yang saya yakini, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Begitu banyaknya yang bisa saya ceritakan mengenai pengalaman hingga bisa sampai di Pulau Miangas. Hingga penulis cukup bingung untuk satu kali menulisnya dalam sebuah halaman atau satu postingan. Akhirnya, penulis memutuskan untuk menuliskan kisah mengenai Miangas, dalam beberapa cerita bersambung. Dan inilah saya memulai dengan menuliskan kisah perjalanan menuju pulau cantik ini. 

          Nantikan cerita berikutnya.

Photo
Lokasi: Pulau Miangas, Sulawesi Utara
Fotografer: Waode Asnini Rahayoe

1 komentar:

  1. salam,, kak sya mau bertanya, bagaimana tips dan triknya bisa lulus seleksei kkn tematik miangas???

    BalasHapus

Design by Al Amin Dawa