Selasa, 03 Juni 2014

Bulan Juni, sejak kapan bulan ini menjadi begitu 'berat', di antara bulan-bulan di tahun sebelumnya. Sebuah angka yang mengakhiri, dan mengawali peristiwa baru yang lain. Hujan Bulan Juni, seperti dalam sajak penyair terkenal, Sapardi, hujan benar-benar mengawali Juni di tahun 2014 ini.

Universitas Muslim Indonesia, kala berteduh dari derasnya hujan, Minggu (01/06/2014).
Semua rasa, semua rindu dan segala kepedihan semoga terhapus di bulan ini. Seperti untaian kata dalam akhir puisi Sapardi, segala rasa dibiarkan tak terucap dan cukup dirasakan menjadi sebuah keindahan. Hujan di Bulan Juni, biarkan saja titik-titik air jatuh dan memberikan ketenangan.

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Oleh Sapardi Djoko Damono



Anak-anak yang begitu riang


“Saya ingin jadi dokter Kak,” teriak seorang anak pulau pada seorang tenaga pengajar kala itu. Semangat bercita-cita itu dilontarkan dengan begitu bersemangatnya usai kelas inspirasi selama kurang lebih tiga jam di Pulau Salebo, Pangkep. Semangat yang jarang kita lihat, yah karena keterbatasan akses anak-anak pulau ini terhadap kota.

Seluruh Partisipan Kelas Inspirasi Pangkep
Kesempatan menyaksikan kobaran semangat anak-anak itu berawal dari program Kelas Inspirasi Pangkep, Makassar. Beberapa relawan termasuk pengajar, videografer dan fotografer menghabiskan dua jam melintasi perairan Pangkep untuk bisa sampai ke Pulau Salebo, yang berada dalam gugusan kepulauan Spermonde. Relawan berlatar profesi beragam ini hendak memberikan percikan inspirasi untuk mengobarkan semangat bagi anak-anak pulau untuk bermimpi dan menggenggam cita-cita mereka.
Tidak sia-sia, sambutan anak-anak sekolah satu-satunya di  Pulau Salebo ini luar biasa menghilangkan rasa mabuk laut akibat perjalanan tadi. Juga, memadamkan rasa panas yang begitu menyengat ubun-ubun kala menginjakkan kaki di pulau dengan jumlah penduduk sekira 200-an jiwa ini.
Bukan hal pertama sebenarnya, beberapa pengalaman ke pulau-pulau di Indonesia menunjukkan kondisi pendidikan yang sama. Isolasi geografi membatasi pembangunan dan pengembangan wilayah pulau. Tak terkecuali pada pendidikannya. Salah satunya di Pulau Salebo misalnya, sekolah dasar yang merupakan satu-satunya sekolah di pulau ini pun hanya memiliki 2 tenaga pengajar yang berstatus PNS, dibantu dengan 6 pengajar yang masih berstatus honorer. Perpustakaan sekolah pun belum terisi buku.  Belum kelar dengan tenaga pengajar yang minim, sekolah menghadapi sengketa lahan dengan warga. Warga pulau yang beranggapan tanahnya diambil untuk membangun sekolah hingga saat ini belum dibayarkan pemerintah.
Belum lagi transportasi dengan ibukota kabupaten yang selalu terkendala. Ketiadaan kapal reguler membuat penduduk enggan keluar pulau. Ini disebabkan sewa kapal yang mahal sekira 400-an ribu untuk keluar dan kembali ke pulau. Kepedihan itu bertambah dengan tidak tersedianya listrik di Pulau Salebo hingga saat ini. Isolasi geografis ditambah ketiadaan perhatian pemerintah mengakibatkan pengetahuan warga begitu-begitu saja, jauh dari pesatnya perkembangan informasi yang mengalir di daerah terjangkau seperti kita.
Panitia yang luar biasa
Salebo menjadi contoh pulau jauh yang tidak mendapatkan fasilitas pendidikan selayaknya. Padahal Indonesia sendiri adalah negara kepulauan dengan jumlah pulau mencapai 17.504 dengan sekitar 6000 pulau telah berpenghuni (Departemen dalam Negeri, 2004). Anak-anak pulau yang cukup banyak ini adalah cikal bakal sumberdaya manusia yang baik masa depan. Jumlah mereka yang tak sedikit patutnya lebih mendapatkan perhatian pemerintah. Baik dari segi pembangunan yang nantinya bisa dianggap mengakselerasi pengetahuan mereka, sehingga berpengaruh pada semakin baiknya kualitas pendidikan anak-anak pulau.
Sayang saja, untuk melihat pemerintah betul-betul meratakan pembangunan hingga menunjang akselerasi pendidikan pada anak-anak pulau tidak bisa disangkal akan memakan waktu lama hingga berpuluh-puluh tahun mungkin. Kegiatan-kegiatan kecil, upaya perbaikan sedikit demi sedikit patut terus diupayakan. Upaya menginspirasi mereka, duduk bersama berbagi pengetahuan jadi langkah-langkah kecil yang bisa terus dilakukan. Biarkan anak-anak pulau di Indonesia bermimpi dan menggenggam cita-cita mereka layaknya kita semua. 

Tulisan ini telah dimuat dalam koran kampus Universitas Hasanuddin dengan penambahan beberapa foto

Fotografer: Ulla Berjuta Rasa

Design by Al Amin Dawa