Bulan Juni, sejak kapan bulan ini menjadi begitu 'berat', di antara bulan-bulan di tahun sebelumnya. Sebuah angka yang mengakhiri, dan mengawali peristiwa baru yang lain. Hujan Bulan Juni, seperti dalam sajak penyair terkenal, Sapardi, hujan benar-benar mengawali Juni di tahun 2014 ini.
Semua rasa, semua rindu dan segala kepedihan semoga terhapus di bulan ini. Seperti untaian kata dalam akhir puisi Sapardi, segala rasa dibiarkan tak terucap dan cukup dirasakan menjadi sebuah keindahan. Hujan di Bulan Juni, biarkan saja titik-titik air jatuh dan memberikan ketenangan.
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Oleh Sapardi Djoko Damono
Universitas Muslim Indonesia, kala berteduh dari derasnya hujan, Minggu (01/06/2014). |
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Oleh Sapardi Djoko Damono
0 komentar:
Posting Komentar